IBU

Mencapai usia kehamilan tua ini, saya sangat bersyukur dan semakin hari semakin tidak sabar menunggu pertemuan kami, saya dan bayi saya 🙂
Apa lagi menyadari semakin “bayi”nya anggota-anggota badannya yang sering menyembul di kuliT perut saya.
Dua pertanyaan yang sangat sering saya dengar saat orang melihat perut saya yang semakin menggendut ini:

1. ”Udah kelihatan belum, laki atau perempuan?”
Menurut saya pertanyaan ini sangat wajar. Karena mungkin beberapa orang mengharapkan anak pertama itu idealnya laki-laki. Jadi, mengetahui jenis kelamin itu penting. Tapi, lalu kemudian saya berpikir,

Ketika seorang dinyatakan hamil, ada dua kemungkinan jenis kelamin yang masing-masing memiliki hak hidup yang sama besar, yaitu 50% cewe: 50% cowo, dan keduanya sama-sama memiliki HAK UNTUK HIDUP. Lantas, kenapa harus dibedakan, sulung idealnya laki-laki dan anak kedua mesti kepengennya cewe, “biar sepasang,” katanya. No! Semua berhak hidup dan berhak menjadi yang sulung. Kecuali kita hidup di India atau Cina, kalo anak pertama cewe, dibunuh. Di Cina, kalo kelaminnya cewe, dibunuh dan dijadikan kuliner janin kukus. Sumber.

Saya sempat tersinggung, waktu dulu pernah ada orang terdekat bilang sama saya,
“Cewe juga lucu, kok..”
Kesan dari kalimat ini kok, sepertinya, “ya udah, mau gimana lagi…” gitu. Seperti ketika kita pengen pake rok warna ungu, tapi ternyata dapet warna orange, trus jadi ada pemakluman, “ya udah, daripada gak dapet rok, meski roknya dapet warna orange bukan ungu, juga ga papa, kok, mau gimana lagi?”

Lagian, banyak orang yang susah dapet keturunan, harusnya sangat bersyukur ketika bisa mendapatkan anak, entah itu laki atau perempuan. Jadi, di kehamilan ini, saya tidak ingin tahu, apa jenis kelamin calon anak saya ini. Yang penting lucu!!! Hihihi… (Bukannya semua bayi pasti lucu, ya?)

2. ”Kata dokter, bisa ngelairin normal?”
Jujur, untuk yang satu ini saya juga tidak pernah ingin tau dan gak pernah menanyakannya pada dokter kandungan saya. Saya hanya ingin saya bisa bertemu dengan anak saya yang selama ini hanya bisa menendang, meninju, dan menggelitik saya dari balik kulit perut saya ini. Saya ingin dia lahir dengan keadaan sehat dan saya juga sehat. Saya ingin bisa mendengar tangisannya yang menggema ke seluruh penjuru rumah sakit. Saya ingin bisa menyusuinya sampe umur 2tahun. Hihihi…

Ternyata kalo saya baca-baca di forum-forum kehamilan, banyak bumil yang ngotot ingin melahirkan normal, dan rasanya dunia hancur kalo sudah divonis harus SC. Why??? Bayi Anda itu masih hidup. Dia sehat. Kenapa harus dunia hancur? Lebih hancur mana, ketika mengetahui bayi Anda tidak tumbuh dan akhirnya harus keguguran??? Please…

Ternyata, dengar-dengar, kebudayaan kita ini punya proverb yang menurut saya “aneh”, yaitu:

“Kalo melahirkan normal itu, rasanya menjadi ibu yang sepenuhnya”

Whaaatt..???

Jadi, hamil dan “membawa buntelan” selama 9 bulan, lalu setelah itu mengeluarkan “bakal manusia” a.k.a bayi, itu masih belum bisa disebut seorang IBU???

Jadi, kalo ada wanita yang melahirkan normal, trus bayinya dibuang, itu juga bisa dibilang IBU???

Dangkal sekali “pangkat” IBU itu, ya?

Sekali lagi, saya masih gak habis pikir dengan orang yang berpikir:

HARUS BISA MELAHIRKAN NORMAL.

Kecuali, terbentur masalah biaya, saya bisa memaklumi. Karena melahirkan dengan operasi SC memang biayanya terpaut lumayan jauh jika dibandingkan dengan melahirkan normal. Kalo udah masalah duit, saya maklum lah. Banyak orang yang berusaha bisa melahirkan normal, supaya bisa melahirkannya di bidan, jadi biayanya tidak seberapa mahal. Kalo itu, saya bisa mengerti.

Namun, kalo alasannya bukan karena biaya, saya masih gak ngerti.

Memang, definisi IBU agaknya masih rancu dalam kehidupan kita. Menurut kita, pada umumnya, IBU itu,
-mengandung
-melahirkan
-membesarkan anak

Bagaimana dengan wanita yang: mengandung dan melahirkan, tapi tidak membesarkan anak. Entah, anaknya dibuang, atau ditaruh di panti asuhan, atau diserahkan sama “si Mbak”.
Apakah wanita seperti itu bisa dikatakan seorang IBU?

Bagaimana dengan wanita yang: tidak mengandung dan tidak melahirkan, tetapi dengan segala pengorbanan dan jiwa raganya dengan ikhlas, mendidik, menjaga, merawat, dan sangat bertanggung jawab dalam membesarkan anaknya. Katakanlah, wanita ini mengadopsi bayi. tentang adopsi
Apakah wanita seperti itu tidak berhak dikatakan seorang IBU?

Menurut saya, kok, tidak adil sekali, kalo kriteria seorang IBU adalah MUTLAK berdasarkan TAKDIR seorang wanita (mengandung dan melahirkan). Atau apakah seharusnya definisi kata IBU itu harusnya tidak ada dalam kamus bahasa Indonesia, melainkan dalam kitab suci, sehingga hanya Tuhan yang boleh menilai dan mendefinisikan arti IBU?

Wallahu’alam bi shawwab.

ENDONETSAHHH… Eps. Curhatan Bumil

Saya mencoba mengingat pada jaman saya masih sok patriotis itu, saya memang jarang nonton berita. Saya kurang akrab dengan kondisi dan keadaan di Endonetsah. Sekarang, saya sudah berumah tangga. Kegiatan saya setiap pagi adalah nonton berita sambil menemani suami sarapan.

Kalo boleh saya berkomentar, ciri-ciri acara berita di stasiun-stasiun kita ini adalah sebagai berikut:

1. Dari mulai acara, sampai akhir segmen acara, beritanya tidak jauh dari korupsi, pertikaian antar orang Endonetsah, bunuh-bunuhan, kriminal, dan musibah/bencana, entah itu yang disengaja atau alami.

2. Berita penutupnya (paling sering) adalah seputar kelahiran binatang lucu-lucu di kebun binatang negara tetangga, objek menarik di negara tetangga juga.
Menyadari hal itu, saya pun membagi pikiran tersebut dengan suami, dan kami tertawa terbahak-bahak. Tragis tapi nyata.

Belum lagi ketika saya dan suami sedang berada di jalanan, banyak masalah tragis yang dengan miris, kami jadikan bahan bercandaan, seperti:

– Pengendara motor yang membawa helm. Tolong dipahami, hanya “membawa” tapi tidak dipakai. Itu mending. Karena sangat banyak yang tidak membawa maupun memakai, konyolnya, mereka ngebut.

– Kalo sedang berhenti di lintasan kereta api, kami membahas berita di tivi yang sering terjadi yang sudah-sudah: ada orang yang terlindas kereta api, karena nekad menyeberang rel saat ada kereta api melintas.

Tersusunlah satu kesimpulan yang sangat memungkinkan:

“Orang-orang ini, punya ilmu debus semua, gak takut sakit, dan selalu berpikir bahwa mereka punya nyawa 9”

Saya termasuk orang yang tidak ngeh dengan peraturan-peraturan lalu lintas, tapi saya dan suami berpendapat, bahwa peraturan lalu lintas itu ada untuk keselamatan nyawa kita. Gak peduli, ada polisi atau tidak, tapi keselamatan jiwa kita masing-masing adalah segalanya.

Kalo saya sering mengomel,

“Aku gak peduli tentang peraturan, aku cuma takut sakit. Mendinglah, kalo ketabrak atau kecelakaan itu gak pake sakit, mo ngebut gak pake helm, terserah. Tapi, kalo pake sakit, ogah!”

Terciptalah tagline yang sering kami gembar-gemborkan bersinggungan dengan ognum-ognum pemakai jalan yang acak adut itu:

“Geniusly moron”.

Tulisan yang barusan saya tulis di atas, hanya dalam aspek lalu lintas. Masih banyak lagi peristiwa ‘geniusly moron’ lain, seperti tawuran, pengeroyokan karena beda aliran Islam (padahal sama-sama Islam), dsb. No Hope!

Satu hal lagi, yang saya dan suami benci setengah mati, dalam hubungannya dengan negara kita tercinta Endonetsah Raia ini, yaitu: pengurusan administrasi (dan apa lah itu segala macam urusannya dengan surat-surat). Sudah bukan rahasia lagi, kalo ngurus surat-surat di Endonetsah ini prosedurnya sangat berbelit dan tidak jelas, sering kali “di-pingpong”, yang ngurusin angot-angotan berasa dipentingin, dan semacamnya. Biasanya siihhh… kalo udah ada embel-embel duit, langsung lancar. Tapi, gak semua diperlancar dengan duit, kok. Banyak kejadian yang gak perlu ‘pelicin’ tapi emang udah gak bisa licin (baca: gak praktis dan menyusahkan).

Kisah saya:
Saya tinggal di Karawang, Jawa Barat. Lagi seru-serunya indehoy dengan suami, ada SMS dari Mamah di kampung (Malang),

“Lusa ada foto buat E-KTP, gak bisa digantiin, kamu harus pulang. Undangannya baru dateng barusan, Mamah langsung SMS kamu…”

Whaaatttt…. rasanya pengen banting semua barang yang ada di dapur!

1. Karawang-Malang itu JAUH. NYEBRANG SATU PROPINSI. Butuh duit dan butuh tenaga yang fit. Butuh jadwal yang gak mendadak.

2. Transportasi di setiap daerah beda-beda. Gak semua daerah gampang akses transportasi untuk mudik sejauh lintas propinsi gitu. Dan Karawang termasuk yang agak susah transportasinya.

Dan akhirnya, saya dengan terpaksa cari bis untuk pulang kampung, dengan hati pengen nangis. Bukan berarti saya gak seneng pulang kampung. Tapi, saya juga ada keperluan dan schedule harian di Karawang. Saya gak suka, karena harus mengubah jadwal harian saya secara mendadak, karena itu menyangkut orang lain, dan orang banyak. Haddduuuhh…. gak praktis banget sih, maksa orang pulang kampung jauh-jauh gitu? Ternyata, saya bukan yang parah. Teman suami saya ada yang orang Lampung, bela-belain cuti naik pesawat ke Lampung (karena mendadak) pasti tiketnya juga jadi agak mahalan. Merugikan, kan?
(Astaghfirullaaahhh..)

Membatin:

“Jadi orang Endonetsah itu harus kaya, ya?”
Kejadian yang menyebalkan datang tadi sore.

Saya ini, sedang hamil 9 bulan. Untuk persiapan kelahiran anak pertama saya, saya harus ngurus surat akte kelahiran, kebetulan saya belum ngurus surat pindah dari kampung saya. Nah, akhirnya, saya minta tolong Papah untuk ngurusin surat pindah. Dokumen dan foto sudah dikirim ke kampung. Lalu, jeng…jeng… Mamah pun SMS,

“Papah baru dateng dari ngurus surat pindah. Ternyata sekarang harus ke polsek dulu, dan butuh CAP 10 JARImu, yang harus diFAX dari POLSEK KARAWANG ke polsek Malang…”

…………….. (saya speechless sejenak, lalu segera sadar)

Whaaatt…. whhyyy….???

1. Saya tidak ingin membayangkan saya berurusan dengan polsek KARAWANG. Skeptis. Takut dipersulit.

2. Lagian, harus ya, pake FAX??? Kan gak semua polsek punya FAX. Kalo polsek Karawang gak punya FAX, bukan berarti polsek Karawang gak bonafit, kan?

Untung, masih bisa nahan banting piring dan gelas. Saya segera banyak istighfar.

Ya Alloh… jadi itu yang dibilang CANGGIH??

CANGGIH TAPI MENYUSAHKAN!!!!

Bukannya kata ‘canggih’ itu sendiri di dalamnya mengandung makna ‘praktis’???

Well. Itu sudah.

Saya tau, jika suami saya denger hal itu, beliau pasti mencak-mencak, karena beliau juga sangat skeptis dengan “gaya peng-administrasi-an Endonetsah ini”. Jadi, dengan wanti-wanti,

“Say, boleh sebel, tapi jangan marah-marah di office, ya?”, saya lapor suami saya lewat SMS (karena irit), beliau membalas:

“I dont know what to say -_-“, saya balas:

“I do. LET’S SAVE OUR ASS AND MOVE OFF THIS COUNTRY!!!”

ENDONETSAHHHH…

Beberapa detik yang lalu saya sekelebat sempat menengok status Facebook salah satu teman saya yang baru balik dari luar negeri untuk menempuh studi S2nya. Statusnya berbunyi,

“90 days before leaving Indonesia”

Saya memang tidak ikut berpartisipasi dalam berkomen di status tersebut, tapi secara otomatis, saya langsung berkomen dalam hati,

“Who wants to stay in Indonesia, anyway….”

Banyak teman saya yang lain, juga nampak senang sekali dengan keberhasilan mereka untuk dapat pergi ke negara lain untuk studi atau menunaikan sebuah tugas. Menurut saya,

“Good for them, we all really need to get out of this country!”

Lalu ada juga, sudara saya yang kebetulan memang sekeluarga tinggal di Jerman. Heran sekali, mengikuti status mereka yang terdengar sangat rindu dan bangga pada kampung halamannya (Endonetsah ini). Kalo mereka mudik, keliatan mereka gembiraaa… banget! Kemudian, mereka juga sering share isu-isu yang sedang terjadi di Endonetsah, seperti kemarin, pemiliha n Cagub-Cawagub Jakarta. Pasti, postingan sepupu saya tersebut sangat mencolok di “home Facebook” saya, karena tidak ada status teman saya yang lain yang men-share artikel semacam itu. Lalu saya berpikir:

“Justru sepupu saya yang sudah jadi orang Jerman ini, sangat up to date dan concern dengan isu yang ada di Endonetsah. Dan dia serta keluarganya juga sangat bangga akan hometown mereka, Endonetsah. Kok bisa, ya?”

Setelah berpikir lebih dalam, saya dapat jawabannya juga:
Teringatlah orang bilang dalam bahasa Jawa:
“Sawang sinawang”.

Maknanya (kurang lebih):
“Orang lain melihat keadaan kita, tampak bagus, bahkan kadang lebih bagus. Tapi belum tentu, yang kita miliki dan yang terjadi pada kita memang seperti yang mereka pikirkan.”

Saudara saya tersebut tidak mengikuti berita di tivi Endonetsah secara rutin tiap hari, seperti yang saya lakukan dengan suami saya waktu sarapan tiap pagi. Mereka juga tidak berhadapan dengan tingkah laku orang Endonetsah yang ada dalam keseharian. Mereka tidak mengalami kondisi parah yang ada di Endonetsah setiap harinya. Jadi, mereka mengetahui lebih banyak kebaikan dari Endonetsah, dari pada keburukannya.

Maka dari itu, gak heran kalo mungkin saya sensus, lebih dari sepertiga penduduk Endonetsah ini pengen banget bisa hijrah ke luar negeri. Seperti yang terjadi pada teman-teman saya. Ada yang dengan alasan pengen nerusin kuliah, ada yang sengaja kerja ke luar negeri, dan bahkan tidak sedikit yang bercita-cita ingin menikah dengan bule supaya bisa ikut tinggal di negeri sang bule, dan meninggalkan Endonetsah. Ada beberapa link yang bisa dibaca sebagai sumber, di sini dan ini.

Mereka gak salah. Justru itu yang memang seharusnya dilakukan. Mengapa?

Ketika kita sudah hidup dan tinggal di luar negeri, maka kita akan terbiasa dengan keadaan yang terjadi di sana. Terbiasa dengan teratur, disiplin, dsb. Ketika kita balik menengok Endonetsah lagi, maka kita akan menemukan “ketidakbiasaan” yang dulu kita biasa lakukan. Seperti, kangen, gitu lah. Seperti, keadaan di Endonetsah yang penuh dengan ke-ngawur-an ini adalah intermezzo unik yang tidak biasa kita nikmati. Kita jadi lebih bisa menghargai, menghormati, dan mencintai Endonetsah.

Itu kalo kita hidup di luar negeri. Menurut pendapat saya, wong saya tinggalnya di Karawang. Hehe.

Saya membagi tiga kelompok orang, sesuai dengan pengalaman yang terjadi pada saya dan keluarga saya:

1. Pengalaman suami saya. Alhamdulillah, akhirnya beliau berkesempatan ke Jepang untuk training. Lamanya seminggu. Ketika balik ke Endonetsah, beliau jadi lebih banyak kesan negatif terhadap Endonetsah. Maklum, kaya masih enak-enaknya merasakan keteraturan dan kecanggihan Jepang, udah di suruh pulang. Hehe, kesian. Semoga besok-besok kita bisa tinggal di sana, ya, Sayang. Aamiin..

2. Pengalaman saya. Alhamdulillah, pernah mendapat kesempatan untuk pertukaran pelajar ke Jepang selama setahun, waktu saya umur 16 tahun. Waktu saya pulang, saya sangat maklum dengan “ke-ngawur-an” yang ada di Endonetsah. Seakan, karena saya sudah terbiasa dan puas dengan kebiasaan di Jepang, saya jadi dengan mudah bisa maklum bahwa Jepang itu berbeda dengan Endonetsah. Itu pasti. Jujur, pada saat itu, sepulang saya dari exchange saya sangat nasionalis. Saya punya pikiran (naif):

“Negeri ini sangat terpuruk, saya tidak boleh meninggalkannya…”

Sok patriotis sekali, ya? Memang. Dulu.

Tapi, sekarang? Jujur, saya hampir setiap hari berdoa agar saya dipertemukan dengan kesempatan untuk bisa enyah dari negara ini. Dan saya sedang menunggunya. Orang sabar disayang Tuhan. Amin.

Meskipun saya sempat sok patriotis seperti itu, ada banyak juga orang yang sudah lama merasakan tinggal di luar negeri (tapi tidak tinggal di sana) jadi pengen tinggal di sana karena jadi ilfeel banget dengan kondisi di Endonetsah, negaranya sendiri.

3. Ada saudara saya yang memang tinggal di Jerman. Tidak untuk kembali ke Endonetsah, karena ikut Ayahnya yang bekerja di sana. Mereka tampak sangat bahagia saat berlibur di Endonetsah. Iya, ke Endonetsah hanya untuk berlibur. Refresh kebiasaan mereka di Jerman, dengan menikmati “keunikan” yang ada di Endonetsah. Menikmati carut marut Endonetsah sebagai intermezzo unik, yang dapat dijadikan pengalaman dan cerita untuk teman-teman mereka yang ada di Jerman. Mereka tidak adak mengeluh jika menemui hal buruk yang terjadi di Endonetsah, karena mereka akan menganggapnya sebagi petualangan liburan yang seru.

Menurut saya, kita memang mungkin harus dapat kesempatan untuk bisa “menengok” kehidupan di luar negeri. Selain, agar dapat mempelajari cara berpikir orang luar negeri, juga dapat mendapatkan perbandingan, sehingga ada yang kita maklumi dan ada yang kita hindari.

Dan menurut saya, mungkin seharusnya kita “menyelamatkan diri dan generasi kita” dengan hijrah dan menetap ke luar negeri, untuk mendapatkan penghidupan yang ‘seutuhnya’ layak dan mendapatkan kualitas hidup yang sepantasnya bagi anak cucu kita.

Jika masih ingat pepatah mengatakan:

“Seenak-enaknya hidup di negeri orang, masih lebih enak hidup di negeri sendiri”

Pepatah itu menurut saya sudah tidak sepenuhnya berlaku lagi, pada masa ini. Pepatah jaman dulu berkata seperti itu, karena jaman dulu masih ada deskriminasi ras, agama, dan suku. Tapi sekarang, jaman sudah sangat berkembang. Tidak ada lagi dekriminasi orang berjilbab di luar negeri, meski mungkin masih ada di beberapa tempat, tapi sudah tidak sebanyak dulu. Sudah sangat jarang, memilih-milih karyawan yang harus asli penduduk suatu negeri, karena sudah banyak perusahaan luar negeri yang mengakui kepandaian orang Endonetsah dan merekrutnya menjadi karyawannya.
Menurut saya, pepatah itu sudah berganti menjadi:

“Seenak-enaknya hidup di negeri sendiri, memang lebih enak hidup di negeri orang”

Dengar, Baca atau Percaya?

Tulisan ini, saya tuliskan berhubungan dengan “kata-kata orang tua” dan kehamilan muda. Sebelumnya, saya ingin menyampaikan bahwa,

Setiap kehamilan pasti berbeda dari satu orang dengan orang yang lain. Kehamilan bukanlah suatu yang eksak atau pasti. Jangan ngiri, kalo ada yang ngebo dan ada yang muntah-muntah. Meskipun, awalnya saya ngiri juga! Hahahaaa..
Gak usah ngiri kalo, ada yang aktif tetap sehat ada yang jadi ngeflek. Daannn…. yang terakhir, jangan dengki kalo ada banyak yang “beneran” hamil dan ada yang BO atau mola. Hehehe… *curcol*

Kondisi si emak dan si janin memang gak bisa disamaratakan. Sekali lagi, hamil bukan suatu yang EKSAK.

Yang pasti, kehamilan adalah anugerah.
Baik hamil palsu atau hamil gagal, adalah anugerah bagi manusia untuk belajar dan kesempatan untuk berbagi ilmu, karena ilmu datangnya gak cuma dari dosen atau guru atau buku, tapi juga dari kehidupan sehari-hari. (sok wise, banget!)

Inilah dia beberapa daftar larangan-larangan yang saya dengar selama hamil. Tiap kali dengar ada “ungkapan” baru, saya selalu rajin buka google dan cari artikel yang menurut saya paling masuk akal. Biasanya, saya cari yang bersumber dari kata-kata obgyn, bukan hanya pengalaman dari ibu-ibu di sebuah forum. Tapi, kalo ibu-ibu di forumnya nyeritain yang diomongin obgyn ma dia waktu dia cek up, boleh lah… untuk dipercaya. Intinya, gak semua yang kita denger itu bagus untuk dipercaya dan dilakukan. Kalo bikin kita jadi tersiksa, kenapa juga tetep dilakuin???

Kehamilan, adalah kenikmatan dunia. Nikmatilah saat-saat hamil Anda! (Meskipun pake acara muntah-muntah yang parah dan lama *curcol lagi*) 😀

1. Gak boleh makan nanas dan daun pepaya
penjelasan versi saya: nanas dan daun pepaya itu emang mengandung enzim buat ngempukin daging. Tapi, sepertinya, kalo dengan makan nanas dan daun pepaya trus rahimnya jadi empuk dan janinnya jadi ‘mlorot’, saya jadi mikir:

“Yang kena nanas dan daun pepaya duluan adalah usus dan lambung. kalo emang bener bisa ngempukin organ dalam, kenapa bukan lambung dan usus kita duluan yang jadi empuk dan ‘ngebocorin’ isi perut kita?”

Mungkin, beda kalo alasannya:

“Nanas mentah itu kelat dan asem, bisa bikin usus lecet dan mules. Perut mules bisa bikin kontraksi rahim yang bisa memicu keguguran, apalagi di usia kehamilan trimester pertama”

Btw, inilah yang saya dapat dari google dan ini hasil yang lain

Waktu 13minggu, saya makan nanas manis dikupasin mamah pula, alhamdulillah, gak ada apa-apa. Trus, waktu itu ada sukuran di mana akan ada es buahnya berisi stup nanas, saya doyan banget. Hehe.

P.S:
Nanas tua yang manis/mateng lho, ya? Bukan yang mentah, kelat, dan asyem.

2. Gak boleh makan yang pedas
Mamah saya sih, pas hamil saya dulu, suka banget makan pedes, trus, kebetulan pas sayanya udah lahir, kok belekan. Tapi, setelah saya liat di internet, malah ada kepercayaan yang tar bayinya jadi gak tumbuh rambut (padahal, bayi mah, tumbuh gak tumbuh rambut tetep lucu, bukan?)

Nah, berhubung akibatnya ‘bercabang’ gitu (ada yang bikin mata belekan dan ada yang bikin gak tumbuh rambut), makin gak percaya lah, saya… Alhamdulillah, saya bukan orang yang sensitif ama pedes2an. Rasa pedas, se-ekstrim apapun, gak akan bikin saya m*ncr*t atau sakit perut. Jadi, saya google lagi, dan tetap makan pedas. Hehehe… 😀
hasilnya

3. Gak boleh mandi malem
Mamah, selaku ‘wakil’ dari ‘orang-orang tua’, percaya bahwa kalo mandi malem (baca: lewat jam 5 sore) bisa bikin bayi step, bayi masuk angin, dsb. Saya sempat melempar pertanyaan (agak ngetes),

“Kalo wanita kerja, tiap hari gak pernah mandi dong? Kan pulang kerja baru jam 5?”

Karena, mungkin, mamah adalah ‘orang orde lama’ yang sangat hobi menggunakan kata ajaib, “pokoknya”, beliau agak kesel dan hampir ngambek (karena anaknya yang generasi google, ini ngeyel melulu),

“Ya pokoknya kata orang tua kaya gitu, kalo kamu emang gak mau nurutin mamah, ya udah terserah!!!”

(Lho, kok, jadi marah??? 😦 )

Padahal, saya percaya kalo artikel ini masuk akal banget.

Ada pengalaman, pagi-pagi biar seger, bangun tidur langsung mandi. Saya pun menggigil, dan langsung masuk angin. Kejadian itu, membuat saya semakin percaya bahwa bukan mandi malam yang gak bagus, tapi mandi yang menggigil lah, yang gak aman buat bumil.

4. Susu hamil wajib
Fyi, susu hamil itu, selalu manis banget! Dan, seperti yang kita tahu, yang manis-manis itu bisa bikin bayi dan emak menggendut. Saya penasaran, lalu, browsing lah, saya. Kemudian, nemu dua artikel ini, pertama dan kedua

Pas awal-awal hamil, saya dipaksa minum susu hamil, saya memilih Pr*n*g*n anti emesis, toh tetep muntah-muntah juga. Trus, keluarga dan sodara menyarankan *nm*m, 2x minum, diare yang sangat menyiksa :(, padahal belinya yang 800gram, mahal! Hahahaaa.. Pas bilang sama suami, kalo minum *nm*m jadi diare, spontan doski teriak,

“NOOO….!!!!”

Wakakakaaaa….

Kemakan iklan, beli lah, SG* yang keliatannya segeritu. Kirain, bukan susu. Pas udah dibeli, ternyata susu rasa mangga, cuma 2x udahan. Itu juga yang kedua kali cuma diminum separo.
Gak kuat ama manisnyaa…

Akhirnya, pas cek up ke obgyn tanya apakah perlu susu hamil? Beliau mengatakan,

“Gak. Kalo perlu, minum susu biasa aja, yang UHT gitu, bu.”

Intinya, yang penting susu. Kalo gak doyan UHT pun, ya udah, ga papa. Orang-orang Pinggiran yang ada di acara Tr*ns7 yang hidup susah tapi anaknya banyak-banyak itu pun gak pake nyusu juga, anaknya banyak dan berbakti pada orang tua. Indeed, you dont have to force your self to consume it! Alloh ngasih kita kehamilan, bukan untuk menyengsarakan kita. Tapi, mempercayai kita untuk merawat amanah-Nya dengan kemampuan sesanggup kita 🙂 percaya itu aja 🙂

Dari usia kehamilan bulan 3-4, minum UHT rasa stroberi. Trus, eneg. Bulan 4-5, minum yang full cream, masuk lancar. Kalo baca di google sih, bagusnya yang Low Fat, tapi udah biarin ah. Yang penting susu, buat tulang, bismillah!

Alhamdulillah, bulan 5 cek up, berat Nakkuw 489gram, detak jantung normal. Hampir seharian ‘olah raga’ dalem peyut emaknya, alias aktif, sehat.

Sehat terus ya, Nakkuww… Temenin Ibu terus ya, sayang… 🙂 :*

5. Minum es bikin bayi gendut
Sebenernya, kalimat di atas bikin saya berpikir 2x, alias ambigu. Maksud dari kata “es” tersebut seperti apa?
Apakah ‘es batu’, ‘es krim’, atau ‘es teler/campur’.
Dan segala yang mengandung ke-ambigu-an selalu menuntun saya untuk menjenguk google. Lalu saya nemu artikel ini untuk dibaca.

Gampangnya adalah:

Bayi adalah manusia. Segala yang gak bagus buat manusia, PASTI gak bagus juga untuk bayi, dan sebaliknya. Gula, gak bagus buat manusia karena bisa bikin overweight, begitu juga buat bayi. Es, gak bagus buat manusia, karena ada yang bisa langsung pilek, kalo makan es. Begitu juga bayi. Kalo memang, es gak bikin si emak pilek dan flu, begitu pun bayinya, juga akan kebal sama es. Dan sebaliknya.

*Di sini, es yang dimaksud adalah makanan atau minuman yang dingin.

Demikian lah, daftar mitos yang saya langgar google. Bukan bermaksud untuk memaksa pembaca untuk melakukan apa yang saya lakukan, saya hanya ingin berbagi pengalaman selama kehamilan saja.

Kehamilan Kedua Anak Pertamax…. Trimester Satu.

Seperti yang banyak dibilang di tulisan-tulisan tentang kehamilan pada umumnya, tulisan saya kali ini dibuka dengan kalimat umum tersebut,

Setiap kehamilan punya pengalaman sendiri yang unik dan rasanya pengen banget untuk di-share dan dikenang. Tulisan saya kali ini, adalah pengalaman kehamilan kedua saya, untuk anak pertama saya… 😀

Trimester Awal (1 – 12 minggu):

Bulan Februari 2012 kemarin, harusnya saya mens tanggal 29. Tapi sejak tanggal 20, saya sudah merasakan bahwa saya akan hamil. Setelah ditunggu-tunggu, tanggal 29 pun terlewati dan saya gak mens juga 🙂 tanggal 2, perasaan mual dan pusing melanda. Oke, positif, lah, ini… dan semua itu menjadi semakin parah pada tanggal 6 Maret 2012.
Saya gak perlu beli tespek atau periksa darah, karena saya langsung muntah sehari 3-4kali, gak bisa bangun, mulai memiliki “kosakata baru” untuk bau-bauan di sekitar rumah yang memancing saya untuk segera “hoeekk…”
Beberapa kosakata baru tersebut, antara lain:
1. bau kamar mandi
2. bau dapur
3. bau rumah
Alhasil, saya gak berani keluar kamar. karena kalo keluar kamar pasti akan bau 3bau-bauan tersebut, dan muntah di tempat! Pipis pun saya tahan. Dan karena tanggal 10 Maret 2012 mau ada Family Gathering ke Trans Studio, sebelum tanggal itu, saya mengharuskan diri saya untuk bisa dapat obat anti mual. Jadilah, saya ke bidan terdekat. Eh, malah disuruh tespek dulu! mana tespeknya pake yang mahal, pula! yang pipisnya ditetesin ke cekungan gitu… halahh..
setelah dapat obat mual dari bidan, karena gak yakin, saya langsung cek nama obat anti mual yang diberi bidan itu di internet. Ternyata, referensinya obat itu gak bagus. Saya gak jadi minum. Jadinya, periksa dokter pas malemnya.
Di obgyn, diUSG. kantung kehamilannya saammaarrr… banget! Udah pasrah kalo kejadian hamil pertama terjadi lagi… tapi si dokter bilang,
“ada, kok, bu…”

dalam hati, bilang,
“semoga, dok.. yang penting, obat anti mual… pliss..”

besoknya adalah hari keberangkatan ke family gathering. (maklum, udik, belum pernah ke Bandung, jadi gak mo ketinggalan liat Bandung :D) Setelah anti mual diminum, lho, kok, tetep mau muntah??? Yeah, the drugs just didnt work… Jadi, dari dikasih vomitas 4mg, diganti jadi ondansetron 8mg. Emang hanya saya minum 1x sehari, karena males minum obat kebanyakan. Seperti biasa, abis dapet obat, merk-nya langsung saya google. Hehe…
ondansetron

Cek up kedua pas minggu ke 8. Hasil USG, detak jantung normal, panjang janin normal, semua tentang janin normaalll… Subhanalloh! Alhamdulillah, padahal saya gak pernah maem yang benerrr… Tappii.., gak heran dong, kalo berat badan saya turun 3kg, dari 43kg jadi 40kg. Bodo ahh!! Yang jelas, si unyu-unyuku sehat dan normal!!!! 😀 😀
Keluhan masih mual dan muntah. Gak ada yang berkesan selain mual dan muntahan itu. Meski banyak yang nyaranin untuk bilang sama janinnya biar jangan ngerepotin emaknya, tapi saya gak pernah sama sekali ngelakuin itu. Inilah quote pertama saya mengenai kehamilan:

Janin ini belum tau apa-apa tentang dunia luar. Dia hanya manusia yang masih belum tau apa-apa. Kalo emaknya mual, itu bukan kemauan si janin, tapi karena reaksi tubuh emaknya yang rewel terhadap HCG di mana hal tersebut adalah akibat dari menembusnya “akar-akar plasenta” pada tubuh emak, dan si tubuh emak ngerasa “akar-akar” tersebut adalah benda asing. Dan, kalo si emak muntah setelah makan suatu makanan, itu bukan berarti si janin gak doyan, tapi karena si emak aja yang rewel. Janin belum tau apa-apa tentang menu masakan yang ada di dunia fana ini.

Sebaliknya, saya percaya kalo bumil mual dan muntah itu adalah reaksi bahwa si plasenta semakin banyak tertanam di tubuh emak, jadi sari-sari makanan dan oksigen semakin banyak yang bisa diberikan pada janin, di mana hal itu akan membuat janin bertumbuh semakin sehat dan kuat.

bacaan

Jadi, saat yang lain sibuk menyarankan membujuk janinnya untuk membantu supaya gak bikin emaknya muntah-muntah, saya justru bilang sama si janin,

“Tumbuh yang sehat ya, Nakkuw… gak papa, biar ibu aja yang lemes…”

Minggu 12, saya tetep tergeletak di kasur. Sambil teler gosok-gosok perut, dan selalu berusaha menghipnotis lambung, supaya gak bikin saya mual dan muntah terus! Nyebelin!!!

Sambil gosok-gosok perut gitu, tiba-tiba ada ketukan lembut di bekas operasi kista 😀 dan pada saat itu pula, saya percaya bahwa itu adalah bakal anakkkuuuwww…!!!! My baby’s alliiivvee….!!!! seneng banget. Setelah hari itu, aku ketagihan untuk ngerasain ketukan itu setiap hari. Kalo udah ngerasain itu, rasanya semangat hidup lagi.. semangat minum lagi (sebelumnya gak berani minum, karena takut muntah)… 😀

Minggu ini, saya cek up yang ke-3, dengan keluhan yang sama. Tapi, pas USG, janinnya udah keliatan bentuk bayi kecil, pake gerak-gerak lucu!!! Aiihh… gemesh.. gemeshh..
Selain itu, juga semakin mengerti dan hafal, dengan kegiatan-kegiatan atau kondisi-kondisi yang bisa memicu muntah, seperti:

1. Duduk lebih dari 15 menit
2. Nonton tifi lebih dari 15 menit
3. Ngomong lebih dari 15 menit
4. Baca lebih dari 15 menit
5. Gerak terlalu banyak
6. Liat layar komputer/HP lebih dari 15 menit
7. Bau bau-bauan yang sudah disebutkan di atas

Jadi, jadwal les pun bolos sebulan, kerjaan bikin artikel blog bantuin temen pun lepas. Gak papa. Nanti pasti dapat gantinya! Abisnya… gimana bisa ngelesin, yang namanya ngelesin itu harus ngajarin anak, jadi pasti harus kudu wajib ngomong banyak, padahal kalo ngomong kebanyakan jadi “heekkk..”. Trus, gimana bisa bikin artikel? Baca lebih dari 15 menit aja udah “hekkk..”, kalo bikin artikel kan harus banyak nulis dan baca!? 😀

Dan, karena gak sanggup bangun dari kasur dan gak bisa bau rumah dan kamar mandi, jadii… wudlu dan sholat dilakukan di atas kasur, dengan kostum seadanya (baca: gak pake mukena), yaitu daster dan selimutan. Biarin, ntar diganti kalo udah seger.

Selama mual dan muntah ini, saya membagi rasa mual menjadi 2 level,

Level 1, mual atau eneg doang.
Level 2, mau muntah, rasanya makanan udah naik ke kerongkongan, tinggal bungkukin badan dan buka mulut doang, isi perut udah meluncur keluar (tapi, jelas, gak pernah coba ngelakuin gituan beneran!). Di level ini, biasanya saya freeze-mode ON, air liur gila-gilaan keluar tapi gak berani saya telan, karena pernah saya telan dan langsung muntah beneran. Jadi, nampung aja tuh air liur ampe mulut menggembung. Dikeluarin, kalo mualnya udah ilang. Karena kalo dikeluarin pas mual, bukannya pas mual harus Freeze-mode ON?
Level 3 = muntah.

Beberapa saran yang sudah saya lakukan tapi malah berakibat fatal (baca: muntah)

1. Minum yang anget-anget, sudah dilakukan. Tetap, langsung keluar lagi langsung.
2. Minum air putih dingin, sudah dilakukan. Tetep, gak menghilangkan mual, dan berakhir muntah.
3. Makan yang asem. Yikes! Ngebayangin doang, udah mual level 2!!!
4. Ngemil. Kalo ngemil manis, pangkal lidah akan berasa asem dan pait, langsung mual level 2. Kalo ngemil gurih, lumayan. Tapi, mending enggak masukin apa-apa, dari pada muntah.

Selain itu, selama mulai hamil ini, rasanya air liur tuh, jadi mudah bergelembung, yang menyebabkan rasa gak enak di mulut. Jadi, hampir ke mana-mana bawa tisu.

Eh iya, selama hidup sebelum hamil, saya selalu mandi minimal 2x sehari. Biarpun selisihnya cuma 1 jam, yang pasti, mandi itu wajib 2x!!! Naahh… berhubung waktu mabuk ini saya gak berani gerak, bau kamar mandi, dan bau sabun, jadi sampai minggu 20, saya masih mandi 1x sehari aja. Itu pun, cepet banget! cuma 5 menit, yang penting pake sabun lalu bilas bersih, keringkan secukupnya! 🙂

Postingan ini, ditulis di suatu hari di saat seger di usia kehamilan 23 minggu. Kenapa suatu hari? Karena bahkan di usia kehamilan segini pun, saya masih sering mual dan udah mau muntah, tapi teteeeeppp… saya tahan dengan gaya “freeze” gak berani gerak 1 detik pun!!! 😀

Akhir kata, karena saya sudah menuliskan bahwa kehamilan memiliki keunikan sendiri-sendiri di atas, maka saya ingin menyarankan bahwa:

“Hamillah senyaman Anda!” 😀

Menunggu Kereta Hari ke 13: Cara Untuk Menghibur Diri dari Rasa 94L4U

Pemikiran saya yang akan saya tulis berikut ini, lumayan bisa menghibur saya dalam kegalauan saya. Hihihi. Supaya seorang manusia selalu punya motivasi yang tinggi, menurut saya, memang harus pinter-pinter menghibur diri sendiri kalo sedang merasa lagi rendah diri dan galau. Hehe. Saya kadang menyebutnya “akal-akalan saya doang”, tapi saya tetap melakukan penghiburan diri ini, untuk tetap survive! 🙂 Baca lebih lanjut